HARI-HARI AKHIR SI PITUNG


Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar Si Pitung atau Bang Pitung wafat dunia, sesudah tertembak dalam pertarungan tak seimbang dengan kompeni. Untuk warga Betawi, kematian Si Pitung adalah duka mendalam. Lantaran ia membela rakyat kecil yang alami penindasan pada saat penjajahan Belanda. Demikian sebaliknya, untuk kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada saat itu, dia dilukiskan juga sebagai penjahat, pengacau, perampok, serta tak tahu apa lagi.

Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini sudah bikin ribet pemerintah kolonial di Batavia, termasuk juga gubernur jenderal. Lantaran Bang Pitung adalah potensi ancaman keamanan serta ketertiban sampai beragam jenis kiat dikerjakan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pokoknya Pitung diputuskan juga sebagai orang yang kudu di cari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi.

Bagaimanakah Belanda tak gelisah, dalam lakukan aksinya membela rakyat kecil Bang Pitung berdiri di barisan depan. Saat itu Belanda memberlakukan kerja paksa pada pribumi termasuk juga “turun tikus”. Dalam gerakan ini rakyat dikerahkan membasmi tikus di sawah-sawah disamping belasan kerja paksa yang lain. Belum lagi blasting (pajak) yang sangatlah memberatkan petani oleh beberapa tuan tanah.

Si Pitung, yang telah bertahun-tahun jadi incaran Belanda, berdasar pada cerita rakyat, mati sesudah ditembak dengan peluru emas oleh schout van Hinne dalam satu penggerebekan lantaran ada yang mengkhianati dengan memberitahu tempat persembunyiannya. Ia ditembak dengan peluru emas oleh schout (setara Kapolres) van Hinne lantaran diberitakan kebal dengan peluru umum. Demikian takutnya penjajah pada Bang Pitung, hingga tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat sebagai pujaan rakyat kecil ini bakal jadi idola.

Si Pitung, berdasar pada cerita rakyat (folklore) yang masih tetap hidup di orang-orang Betawi, mulai sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut arti Betawi, “orang yang denger kate”. Dia juga “terang hati”, cakep menangkap pelajaran agama yang didapatkan ustadznya, hingga dapat membaca (tilawat) Alquran. Terkecuali belajar agama, dengan H Naipin, Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar pengetahuan silat. H Naipin, juga guru tarekat serta pakar maen pukulan.

Satu saat di umur remaja seputar 16-17 th., oleh ayahnya Pitung diminta jual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari tempat tinggalnya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Saat dagangannya habis serta akan pulang, Pitung dibegal oleh sebagian penjahat pasar. Sejak saat itu, dia tak berani pulang ke rumah. Dia tidur di langgar serta terkadang di tempat tinggal gurunya H Naipan. Ini sesuai sama tekadnya akan tidak pulang saat sebelum sukses temukan hasil jualan kambing. Dia terasa bersalah pada orangtuanya. Dengan tekadnya itu, dia semakin memperdalam pengetahuan maen pukulan serta pengetahuan tarekat. Pengetahuan pukulannya bernama aliran syahbandar. Lalu Pitung lakukan meditasi dengan kata lain tapa dengan bagian berpuasa 40 hari. Lalu lakukan ngumbara atau perjalanan manfaat menguji ilmunya. Ngumbara dikerjakan ke beberapa tempat yang “menyeramkan” yang juga bakal bertemu dengan begal.

Salah satu pengetahuan kesaktian yang dipelajari Bang Pitung dimaksud Rawa Rontek. Paduan pada tarekat Islam serta jampe-jampe Betawi. Dengan kuasai pengetahuan ini Bang Pitung bisa menyerap daya beberapa lawannya. Seakan-akan beberapa lawannya itu tak lihat kehadiran Bang Pitung. Karenanya dia digambarkan seakan-akan bisa menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan pengetahuan kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang Pitung tak bisa menikah. Lantaran hingga hayatnya saat ia tewas dalam mendekati umur 40 th. Pitung tetap masih bujangan.

Si Pitung yang memperoleh sebutan “Robinhood” Betawi, sekalipun tak sama juga dengan “Robinhood” si jago panah dari rimba Sherwood, Inggris. Walau demikian, sekurang-kurangnya keduanya mempunyai karakter yang sama : Senantiasa mau menolong rakyat tertindas. Walau dari hasil rampokan pada kompeni serta beberapa tuan tanah yang menindas rakyat kecil.

Selama ini, tokoh legendaris Si Pitung dilukiskan juga sebagai pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat serta keren, hingga menyebabkan rasa sungkan tiap-tiap orang yang bertemu dengannya. Dalam film Si Pitung yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen, ia juga dilukiskan juga sebagai pemuda yang gagah serta bertubuh kekar. Namun, menurut Tanu Trh dalam “Intisari” menggambarkan berdasar pada pembicaraan ibunya dari cerita kakeknya, Pitung tak sebesar serta segagah itu. ”Perawakannya kecil. Tampang Si Pitung sekalipun tak menarik perhatian khalayak. Sikapnya juga tak seperti jagoan. Kulit berwajah kehitam-hitaman, dengan ciri yang khas sepasang cambang panjang tidak tebal, dengan ujung melingkar ke depan. ”

Menurut Tanu Trh, saat bertandang ke rumah kakeknya berdasar pada pembicaraan ibunya, Pitung pernah digerebek oleh schout van Hinne. Sesudah semua isi rumah di check nyatanya pejabat polisi Belanda ini tak temukan Si Pitung. Sesudah van Hinne pergi, barulah Si Pitung dengan cara mendadak nampak sesudah bersembunyi di dapur. Lantaran belasan kali sukses melepaskan diri dari incaran Belanda, tak heran bila Si Pitung dipercaya beberapa orang mempunyai pengetahuan menghilang. ”Yang pasti, ” kata ibu, seperti dituturkan Tanu Trh, ”dengan badannya yang kecil Pitung sangatlah pintar menyembunyikan diri serta dapat menyelusup di sudut-sudut yang terlampau sempit untuk beberapa orang lain. ” Tengah bila ia bisa bikin dianya tak terlihat di mata orang, ada yang yakini lantaran ia mempunyai kesaksian “ilmu rontek”.
Previous
Next Post »